Jadi Pengusaha

Suatu negara akan melaju berkembang dengan baik jika ada 10% dari rakyatnya menjadi pengusaha. Bagaimana dengan bumi pertiwi ini ? ternyata belum ada satu persen dari anak negerinya yang menjadi pengusaha. Mengapa ? banyak faktor, bisa jadi tidak ada modal, tidak ada pengetahuan, tidak ada keberanian, tidak ada minat, birokrasi yang sulit, banyak pungutan siluman liar, takut gagal, dll. Padahal menjadi pengusaha faktor keberhasilan sebanding dengan resiko yang dihadapi.

Nah, bila mendengar kata resiko, sebagian besar dari kita gentar. Resiko ibaratkan kiamat yang melumpuhkan kehidupan kita, membinasakan dan membangkrutkan kita. Sayang sekali, jika anggapn seperti itu menyelimuti mental anak bangsa ini. Mengapa kita begitu takut akan resiko ? kemungkinan besar karena keadaan dan lingkungan kita yang membuatnya demikian. Kita sedari kecil sampai dewasa terdidik dengan pendidikan yang menghambat jiwa wirausaha kita. Kita dididik dengan kesadaran bahwa melakukan kesalahan adalah buruk. Contoh sederhananya, jika kita salah mengerjakan tugas sekolah, kita dihukum, paling tidak dicemooh. Hal tersebut membuat kebanyak murid sekolah tidak berani aktif dalam pelajaran karena takut salah.

Kita pun dibesarkan dalam nasihat klasik yang salah dari orang tua dan guru-guru kita. Sekolah yang rajin, belajar yang giat, biar bisa lulus dengan nilai yang terbaik dan diterima bekerja di perusahaan yang bonafite dengan gaji tinggi, atau menjadi pegawai negeri yang dijamin oleh negara kesejahteraannya. Kentara sekali, bahwa menjadi karyawan swasta terlebih negeri adalah bergengsi di mata orang kebanyakan, nyaman dan aman.

Saya tidak bermaksud mengatakan kalau sekolah yang rajin, belajar yang giat, lulus dengan nilai terbaik dan bekerja menjadi pegawai adalah hal buruk, jalan yang salah. Namun didikan dan lingkungan kita membuat kita tidak berani menjadi pewirausaha. Bayangkan berapa banyak para pencari kerja yang antri mencari pekerjaan, berjebun jumlahnya. Padahal jumlah lapangan kerja jauh tidak sebanding. Nah, kalau sudah demikian, mengapa tidak membuka usaha sendiri saja ? menciptakan lapangan pekerjaan, membantu mengurangi beban negara ?

Jawabannya, tidak semua orang bisa, susah, tidak punya modal, dll. Dan terlalu banyak alasan yang membenarkan kita untuk tidak menjadi pengusaha, daripada melihat peluang yang cukup besar yang siap mengantar kita pada kesuksesan. Ketakutan akan kegagalan lebih besar, mengalahkan rasa gembira atas kesuksesan.

So, apakah menjadi pengusaha segampang yang difilosofikan ? di dunia ini kita dilahirkan dalam ketiadaan kecuali suara tangisan pertama yang melegakan hati orang tua yang melahirkan kita. Kita telah diberi aset yang sama oleh Tuhan, waktu yang sama-sam 24 jam sehari. Meski kita tidak mampu memilih siapa orang tua kita, dimana kita dilahirkan, namun dengan keadilan Tuhan kita bisa sukses sebagai pengusaha jika kita mau belajar dan giat berusaha. Kita tidak punya uang ? uang bukan faktor yang menentukan, bahkan uang hanya potensi saja. Yang paling dibutuhkan dalam wirausaha adalah mental dan pola pikir kita yang benar, keberanian kita memulai, dan pikiran positif kita memandang peluang dan hambatan. Jika memang harus menjadi pengusaha, maka pandanglah peluang dan tantangan sebagai satu hal yang sama, sama-sama digarap dan diselesaikan dengan segenap kemampuan. Dan apakah kemampuan kita kurang ? pada hakekatnya kita tiada memiliki kemampuan, daya dan upaya setitik debu pun selain atas ijin Tuhan. So, berdo’a kepada yang memiliki kemampuan adalah pamungkas terhadap kelemahan kita.

Post a Comment